Thursday, February 4, 2010

Hati yang Takkan Pernah Patah



Hati yang Takkan Pernah Patah (cinta diterima: ALHAMDULILLAAH, cinta ditolak: ALLAAHUAKBAR)

Hati yang Takkan Pernah Patah
“Tak pernah terbayang dalam benakku tuk bertemu dia lagi”, begitu tulisan yang terbaca di status Yahoo Messenger (YM) seorang sahabat, ku ajukan sebuah pertanyaan, “habis ketemu siapa tuh..?”, ku duga pasti ini mengenai kisah cinta, dan betul saja, maka mengalirlah kisah kasih yang tak sampai.

Pernahkan anda mencintai seorang lawan jenis sedemikian hebatnya, sampai-sampai merasa bahwa inilah cinta sejati anda? Pernahkah anda merasakan bahwa ada seseorang yang sedemikian menariknya dan merasa bahwa ia adalah orang yang paling tepat tuk bersama-sama mengarungi hidup? Dan pernahkan pula anda merasa bahwa ternyata, cinta anda bertepuk sebelah tangan, harapan-harapan anda pupus terhempas realita, dan kesedihan anda begitu menguasai jiwa?
Malam-malam terlewati disertai air mata yang mengalir, hari-hari dilalui dengan kehampaan yang menyelimuti, dan anda hidup di dunia bagaikan sesosok mahluk tanpa nyawa yang sembari menekan rasa sakit di dalam hati akibat cinta yang tak seindah harapan.Patah hati memang telah lama menjadi sumber inspirasi. Entah telah berapa banyak karya-karya sastra yang dibangun berdasarkan pengalaman pahit cinta ini. Lagu-lagu tercipta dengan indah ketika sang pengarang sedang merasakan kepedihan patah hati; puisi-puisi terlantun menyedihkan bertebaran menemani sang penyair yang sedang dirundung kesedihan patah hati; novel maupun cerpen mengalir menuturkan pedihnya patah hati.

Sadari saudaraku, bahwa sesungguhnya tak pantas kita merasa patah hati. Hati seorang muslim itu terlalu lembut tuk bisa patah. Hanya meraka yang memiliki hati yang keraslah yang mungkin merasakan patah hati. Hanya mereka yang menempuh jalan yang berlikulah yang pantas tuk patah hati. Mereka yang telah berusaha menapaki jalan lurus, tidak seharusnya dan tidak boleh merasa patah hati.

Ketika kita telah mengajukan lamaran dan mengajak seseorang tuk menikah dan ditolak, maka tidak perlu ia merasa patah hati. Toh ia telah menjalankan suatu ibadah, membuktikan niatan suci dalam hati, dan berusaha menjalani sunnah dengan menikah, dan menjaganya dari cara-cara yang tidak diridhoiNya.

Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah SAW tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan: “Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian, kemudian Allah memerdekakan…,” kata Bilal. Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah). Dan kalau Anda menolak, maka kami mengucapkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar).”

Bukankah sebagai seorang muslim, ketika ia telah meniatkan suatu kebaikan maka Allah kan mencatatnya sebagai suatu amalan, apalagi kalau dia telah menjalankannya. Terlepas dari apapun hasilnya.

Dari Abdullah bin Abbas r.a. berkata: Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencatat segala hasanat (kebaikan) dan sayyiat (kejahatan) kemudian menjelaskan keduanya maka barangsiapa yang berniat akan melakukan kebaikan lalu dikerjakannya maka akan dicatat untuknya sepuluh hasanat mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Dan apabila ia berniat akan melakukan sayyiat (kejahatan) lalu tidak dikerjakannya maka Allah mencatat baginya satu hasanat dan jika niat itu dilaksanakannya maka ditulis baginya satu sayyiat.” (HR. Bukhari – Muslim)

Setiap orang berhak tuk menerima atau menolak pinangan, baik laki-laki maupun perempuan. Dan sudah seharusnya kita bisa berbesar hati dan bersikap dewasa dalam menerima segala keputusan. Apalagi keputusan menikah yang merupakan salah satu hal yang sangat besar.

Allah swt berfirman,

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisaa’: 21)

Kalimat “mitsaqon ghalidza” atau “perjanjian yang kokoh” yang digunakan, sama persis seperti yang digunakan pada ayat,

Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (QS. An-Nisaa’: 154)

Maka dari itu, jika pertimbangan yang mesti dilakukan terlalu hati-hati, dan keputusan yang harus diambil merupakan keputusan yang mungkin terasa berat (diterima sebagian pihak), maka haraplah maklum.

Toh, itu semua kita jalani atas landasan cinta kepada Allah. Bukankah itu semua kita jalani atas niatan karena Allah semata, demi meraih ridhoNya, tuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Maka dari itu, tiada alasan bagi kita tuk merasa patah hati.

Sungguh Allah sangat menyayangi hamba-hambanya yang beriman,

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisaa’: 29)

Dan sungguh Allah adalah zat yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan sudah barang tentu, Ia kan memberikan kita, pilihan yang terbaik menurutNya.

Semoga kita bisa bercermin dari kisah nabi Yusuf AS, ketika beliau dihadapkan pada cobaan besar dan ujian yang berat, bukan hanya sehari maupun dua hari, namun tahunan, dengan pilihan-pilihan yang serba terbatas. Dengarkanlah bagaimana perkataan beliau,

Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Yusuf: 100)

Ingat satu hal, “Pejuang Cinta Takkan Pernah Kalah”, karena orientasi cinta yang ada di dirinya adalah orientasi cinta yang menembus awan dunia dan bermuara pada cinta kepada Rabbnya. Semoga kita bisa menjadi “Pejuang Cinta Sejati”… Amin
—

Jakarta, 28 Januari 2008
Syamsul Arifin (http://genkeis.multiply.com)
Untuk yang pernah bersedih karena “cintanya telah menang”, bergembiralah merayakan cinta, dan sambutlah (cari, -red) cinta yang telah Allah siapkan untukmu

FITRAH MENJADI FITNAH



Artikel ini bertemakan perkahwinan dan juga sebab sebab mengapa ada di antara kita memilih untuk berkahwin awal walaupun terpaksa berdepan dengan risiko yang mungkin tidak dapat di lihat, tapi risiko adalah satu lumrah kehidupan kita. Sekarang nikmatilah tazkirah ini. Hati remaja selalu berkata, apakah salah kami bercinta? Rasa cinta memang tidak salah. Ia adalah fitrah semulajadi (instinct) yang ALLAH swt
kurniaan kepada setiap manusia. Ingin bercinta dan dicintai adalah instinct.
Jiwa manusia memerlukan cinta seperti jasad perlukan makanan. Oleh kerana
cinta adalah fitrah, maka tentulah tidak salah merasainya. Namun ALLAH tidak
kurniakan cinta secara polos begitu saja. Dia juga pencipta peraturan cinta
demi menjaga kemurniaannya. Peraturan inilah yang kerap dilanggar. Rasa cinta tidak salah tetapi kesalahan selalu berlaku sewaktu menjalin hubungan cinta. Di sinilah selalunya remaja terjebak. Cinta terlarang adalah cinta
yang menafikan peraturan yang telah ditetapkan oleh ALLAH swt. Ketika itulah
FITRAH telah menjadi FITNAH. Bila kehendak semulajadi tidak disalurkan atau
diisi mengikut peraturan maka akan berlakulah kekalutan dan kemusnahan. Mengapakah perlu ada peraturan cinta? Jawabnya kerana ALLAH swt mencintai manusia hambaNYA. Allah inginkan keselamatan dan kesejahteraan buat manusia
melaksanakan keinginan fitrah semulajadinya.

Keinginan tanpa peraturan akan
menyebabkan banyak kemusnahan. Begitulah hubungan cinta yang terlarang akan
membawa banyak implikasi negatif dalam kehidupan. Pengalaman sudah pun mengajar kita bahawa jangan sesekali bermain cinta, nanti terbakar
diri. Sudah banyak tragedi yang berlaku akibat hubungan cinta yg
membelakangkan Tuhan! Hubungan cinta jangan dicemari oleh sebarang tindakan menyalahi
syariat. Lebih banyak perlanggaran hukum berlaku, lebih tinggilah risiko
kemusnahan yang akan berlaku. Jangan kuat tertipu dengan pesona cinta yang dihiasi
dengan pelbagai janji dan sumpah setia. Jangan kita mabuk dengan rindu dan
asyik yang membuai dan melenakan. Seteguk kita minum dari kendi cinta terlarang, racunnya akan meresap membunuh akal, jiwa dan perasaan. Pada ketika itulah cinta dikatakan buta. Maka butalah mata hati dan mata kepala
sehingga seseorang akan menjadi hamba kepada sesiapa yang dicintainya. Ketika itu hati tidak nampak yang lain kecuali apa yang dicintainya.
Lupalah diri pada pencipta cinta kerana terlalu asyik dengan cinta yang
dikurniakaNya.

Bagaimanakah pula perasaan kita agaknya jika seseorang
itu begitu leka dengan hadiah yang diberikan hingga terlupa bersalaman dan
berterima kasih dengan pemberinya?
Allah swt kerap dipinggirkan dalam hubungan cinta terlarang. Seolah-olah
cinta dan pencipta cinta itu sudah tidak ada kaitan antaranya. Hukum
ALLAH dilanggar bukan dengan rasa bersalah tetapi dengan rasa manis dan
megah. Tangan kekasih dipegang walaupun jelas ALLAH mengharamkan sentuhan
antara lelaki dan perempauan yang bukan muhrim. Tergamak berdua-duaan di
tempat sunyi walaupun sudah diperingatkan Nabi bahawa dalam keadaan itu
syaitan adalah pihak ketiga. Lebih dari itu pun banyak berlaku. Semuanyanya
seolah-olah halal kerana cinta. Racun-racun berbisa yang memusnahkan
cinta telah dianggap sebagai baja. Akhirnya pohon cinta terlarang pun
berbuah. Buah yang pahit, masam dan memabukkan. Buah yang muncul dengan pelbagai
jenama yang aneh dan menjijikkan - zina, sumbang mahram,bohsia, bohjan,
buang bayi dll lagi. Ketika itu indahkah cinta?
Peraturan cinta bagai tanda-tanda dan lampu isyarat di atas jalan raya.
Kereta diciptakan dengan kuasa untuk bergerak tetapi pergerakkannya perlu
diatur dan dikawal. Jika tidak, dengan kuasa itu akan berlakulah
perlanggaran dan pertembungan.

Begitulah cinta, ia adalah kuasa tetapi kuasa itu perlukan peraturan dan kawalan. Apakah peraturan-peraturan dalam hubungan cinta? Hendaklah cinta kita itu didasarkan kepada cinta ALLAH. Ertinya cinta yang kita berikan kepadanya semata-mata kerana
mengharapkan keredhaan ALLAH.
ALLAH memberikan kita fitrah itu lalu niatkan dengan fitrah itu boleh
menghampirkan diri kita kepada ALLAH swt. Cintailah sesiapa pun, tetapi
pastikan cinta itu dapat memudahkan kita mencintai ALLAH. Sehubungan
dengan itu, cinta antara lelaki dan perempuan mestilah diniatkan untuk
ALLAH!.

Soalnya bagaimana?
Iringilah dengan niat untuk berkahwin kerana berkahwin itu lebih memudahkan seorang lelaki atau seorang perempuan menyempurnakan agamanya.

Sabda Rasulullah saw,
"Apabila seseorang itu berkahwin, sempurnalah separuh agamanya, tinggal
lagi
separuh untuk disempurnakannya"
.
Semoga perkahwinan yang dibina adalah semata-mata kerana ALLAH, dgn tujuan
untuk membina rumahtangga muslim, melahirkan keturunan soleh dan solehah, keluarga yang sanggup memikul amanah & dapat melaksanakan segala hukum dan perintah ALLAH swt.
Semoga dengan perkahwinan itu juga akan dapat menjaga
pandangannya, kehormatan dirinya serta hati dan juga perasaannya supaya sentiasa tunduk dan takut pada ALLAH swt, di samping dapat beribadat dan bertaqwa kepada ALLAH SWT.


Oleh itu, usahlah bercinta sekadar untuk bersuka-suka. Lebih buruk lagi
janganlah ada niat-niat yang jahat dalam bercinta sekadar untuk
bersuka-suka. Lebih buruk lagi janganlah ada niat-niat yang jahat dalam
bercinta sama ada didorong oleh hasutan nafsu atau bujukan syaitan.
Jika
tidak ada niat untuk berkahwin, cinta sudah pasti bukan kerana ALLAH.
Hakikatnya cinta itu adalah cinta terlarang yang akan membawa
kemusnahan
pada sebelah pihak atau kedua-duanya sekali. Cinta jenis ini seburuk
namanya
- Cinta Monyet!
Hendaklah dipastikan semasa menjalin hubungan cinta tidak ada hukum
ALLAH
yang dilanggar. Antaranya, tidak ada pergaulan bebas, tidak ada
pendedahan
aurat, tidak ada pengabaian perkara asas seperti meninggalkan
sembahyang, puasa dan lain-lain. Hubungan cinta jangan sampai
terjerumus
dalam perkara yang melalaikan dan merugikan. Maka, remaja tidak
seharusnya
mengeluh," Cinta apa namanya ini jika tiada dating, tiada perbualan
telefon
maraton..atau bahasa remajanya 'bergayut', tiada surat cinta, tiada
sentuhan
tangan, tanpa kerlingan dan senyuman?
Yakinlah, tidak ada keindahan dengan melanggar peraturan Tuhan. Putus
cinta
dan kecewa bercinta yang begitu dominan dalam kehidupan remaja adalah
disebabkan racun-racun cinta yang disangka baja ini. Justeru banyaklah
cinta
yang gagal disambung di alam perkahwinan dan lebih banyak yang putus
tanpa
sempat menempuh perkahwinan.
Allah swt Maha Mengetahui dan Maha Menyayangi. Segala peraturanNya buat
dengan rasa cinta terhadap hambaNYA. Cinta suci mampu tumbuh tanpa
semua
itu. Dan cinta itu pasti akan membawa ke gerbang perkahwinan untuk
bercinta
lagi dengan seribu keindahannya. Bahkan jika diizinkan oleh takdirNya,
cinta
itu akan terus bersambung ke alam akhirat. Suami yang soleh dan isteri
yang
solehah akan bercinta lagi di syurga-empat pertama yang melahirkan
cinta!
Ketika itulah FITRAH akan menjadi ANUGERAH!

.: Siapa Layak digelar MUJAHIDAH? :.


Mujahidah adalah semulia-mulia status yang disandang oleh seorang wanita muslimah. Dalam kaitannya dengan status ini seorang muslimah harus boleh memahami secara benar, bahawa jawatan mujahidah bukan nama pemberian dari seseorang tetapi ia adalah hasil dari kegigihan dan mujahadah yang ia lakukan dalam usaha menegakkan syariat Islam.

SELAMAT BERMUJAHADAH..chayo!



Bukanlah dianggap sebagai seorang mujahidah kalau ia berpangku tangan melihat kemungkaran yang bermaharajalela dan merasa merdeka padahal hukum Islam dijajah dan dieksploitasi thaghut.

Mujahidah adalah mereka yang tidak pernah merasa puas sebelum Islam wujud sebagai satu-satunya acuan hidup manusia dan merasa belum puas selagi fitnah dan kemungkaran masih hidup, sehingga ia sentiasa tidak pernah diam, tetapi selalu berfikir dan bekerja tanpa mengenal lelah dengan tujuan menegakkan Islam.

Adapun kewajipan yang perlu diketahui adalah:

1. Tidak boleh berundur dan pantang menyerah walaupun dalam suasana bagaimanapun.

2. Memberikan dedikasi dan kesetiaan yang tinggi terhadap pimpinan yang mengamalkan Islam.

3. Melatih diri dalam pelbagai ketrampilan dan keahlian.

4. Melazimi amalan-amalan soleh dan memperbanyak ibadah seperti puasa, membaca al-Qur’an minima satu juzu’ setiap hari, qiamullail dan lain-lain.

5. Selalu bersikap waspada, kritis dan tidak mudah terpengaruh.

6. Sentiasa tolong-menolong dan bersikap ithar kepada yang lain.

7. Memiliki perhitungan dan pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan dan bertindak.

8. Mengikhlaskan niat dan tujuan hanya untuk mencapai mardhatillah sahaja.

9. Memiliki kesabaran dn kestabilan jiwa dalam menghadapi pasang-surutnya fitnah dan cubaan.



( Dipetik dari buku: Adab Terpuji & Tanggungjawab Wanita Solehah.

Penyusun: Abdul Harith Zaidan)

:: wanita y dirinya ibarat pohon semalu ~



Pohon Semalu


Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w berjalan-jalan bersama puteri baginda, Saidatina Fatimah r.a. Setibanya mereka berdua di bawah sebatang pohon tamar, Fatimah terpijak pohon semalu, kakinya berdarah lalu mengadu kesakitan.

Fatimah mengatakan kepada bapanya apalah gunanya pohon semalu itu berada di situ dengan nada yang sedikit marah. Rasulullah dengan tenang berkata kepada puteri kesayangannya itu bahawasanya pohon semalu itu amat berkait rapat dengan wanita. Fatimah terkejut. Rasulullah menyambung kata-katanya lagi. Para wanita hendaklah mengambil pengajaran daripada pohon semalu ini dari 4 aspek.

Pertama, pohon semalu akan kuncup apabila disentuh. Ini boleh diibaratkan bahawa wanita perlu mempunyai perasaan malu (pada tempatnya).

Kedua, semalu mempunyai duri yang tajam untuk mempertahankan dirinya. Oleh itu, wanita perlu tahu mempertahankan diri dan maruah sebagai seorang wanita muslim.

Ketiga, semalu juga mempunyai akar tunjang yang sangat kuat dan mencengkam bumi. Ini bermakna wanita solehah hendaklah mempunyai keterikatan yang sangat kuat dengan Allah Rabbul Alamin.

Dan akhir sekali, semalu akan kuncup dengan sendirinya apabila senja menjelang. Oleh itu, para wanita sekalian, kembalilah ke rumahmu apabila waktu semakin senja.

Ambillah pengajaran dari semalu walau pun ia hanya sepohon tumbuhan yang kecil.